close

Google Glass Penuh Kontroversi, Bagaimana Kelanjutannya?

Google Glass

Setelah ‘pensiun’ pada bulan January lalu, Google ternyata diam-diam akan menghidupkan kembali Google Glass. Berdasarkan berita yang berdedar, Google Glass terbaru akan dibuat untuk sektor usaha sebagai ganti dari komputer cepat yang umumnya digunakan di kantor.

Google Glass

Lebih lanjut lagi, Google Glass didesain untuk usaha penanganan kesehatan (rumah sakit), manufaktur dan industri. Berdasarkan laporan yang ditulis oleh Wall Street Journal, ada beberapa perbaikan Google Glass, diantaranya yaitu daya tahan baterai yang lebih baik, prosesor yang lebih cepat dan model yang lebih kuat dan lebih lentur.

Prediksi Kehadiran Google Glass 2

Google Glass isn’t dead. Ya, pernyatann tersebut sepertinya pas menggambarkan bagaimana kelanjutan dari mega proyek Google untuk Google Glass. Spekulasi yang dilakukan oleh beberapa media megatakan seperti apa Google Glass yang kedua nanti. Tentunya hampir semua media menyimpulkna bahwa Google Glass yang kedua ini dibuat untuk kalangan enterprise. Diperkirakan akan diluncurkan pada 2016 mendatang. Mengenai harga, belum ada keterangan pasti. Namun jika melihat harga Google Glass pertama US$1,500, diperkirakan harga Google Glass kedua lebih murah jika ingin meraup pengguna atau pasar yang jauh lebih banyak. Seperti yang telah disebutkan diatas, prosesor yang digunakan akan lebih cepat daripada yang pertama. Wall Street Journal mengabarkan jika Google akan memakai prosesor Intel. Jika kabar tersebut benar, maka Google dan Intel akan memposisikan Google Glass terbaru tersebut untuk digunakan kalangan professional seperti di bidang industri dan bahkan rumah sakit.

Kontroversi Google Glass

Google Glass diluncurkan secara terbatas pada 2013 dan dilepas di pasaran tahun 2014 ini menimbulkan kontroversi. Kontroversi yang pertama memakai Google Glass dapat membuat menyebabkan kecelakaan. Bukan tanpa sebab karena pengguna akan memiliki konsentrasi terpecah. Hal ini karena kemampuan perangkat yang dapat mengambil gambar dan video hingga akses internet. Ini akan bahaya jika dipakai saat mengemudi. Untuk itu kepolisian Virginia melarang pemakaian Google Glass saat berkendara. Kontroversi yang kedua yaitu pengguna menjadi anti sosial. Cara pakai alat ini adalah tanpa menggunakan tangan dan hanya memakai fungsi suara. Hal ini dikhawatirkan akan membuat pengguna asyik memakai dan cuek dengan keadaan sekitar. Kontroversi ketiga yaitu adanya isu pornografi. Diberitakan sebelumnya bahwa ada sebuah industry pornografi yang mengincar Google Glass yang akan dijadikan sebagai media untuk menonton film dewasa. Kontroversi keempat yaitu dapat memata-matai orang yang baru dikenal. Pengguna bisa menyebut nama sesorang yang baru dikenal tersebut, kemudoan Google akan mencari tahu. Hal ini dapat menganggu privasi yang bersangkutan. Kontroversi kelima yaitu mengintip lawan jenis. Perangkat ini dapat merekam dan mengambil gambar secara tersembunyi. Hal ini juga akan menganggu privasi seseorang. Karena itu ada sebuah restoran di AS yang melarang pengunjungnya memakai kacamata Google. Bahkan hampir semua bar di San Francisco, AS melarang masyarakat memakai kacamata Google tersebut. Setelah adanya beberapa penyerangan kepada para pengguna, maka kacamata Google ini dilarang digunakan di rumah sakit, mobil, kasino, bioskop dan bank.

Google Glass kembali dengan Misi Baru

Beberapa hal sudah disebutkan diatas mengeni ‘jeroan’ Google Glass. Pada bagian ini, Google Glass 2 sepertinya mengusung misi baru setelah kontroversi yang ada. Perwakilan Google seperti yang dikutip pada Fortune mengatakan tentang ‘nasib’ Google Glass.

“Permasalahannya adalah kami kurang mengerjakannya dengan baik dan kami semakin dekat dengan kegagalan. Maka dari itu, kami akan bekerja keras untuk lebih hati-hati dan cerdas mengembangkan Google Glass ke depan,” tuturnya.

Selain itu Digitaltimes mengatakan kacamata Google terbaru akan menghadirkan sebuah software yang dapat membantu anak-anak autis. Brain Power adalh software tersebut. Dikembangkan oleh ilmuwan asal Boston Ned Sahin software ini berfokus pada Industri ini berfokus pada apa yang teknologi baru dapat lakukan untuk meningkatkan hiburan dan komunikasi, tapi bahkan Produk wearable dimaksudkan untuk gaming terbukti potensi untuk meningkatkan kehidupan manusia. Virtual Reality berguna untuk membantu pengobatan penderita gangguan mental.

Brain Power akan membantu anak-anak dengan memproyeksikan isyarat dan petunjuk yang berkaitan dengan interaksi sosial di layar komputer kecil Glass atau memberikan isyarat audio ketika interaksi berlangsung. Pelatih virtual akan meminta pemakai untuk melakukan kontak mata, misalnya hanya mencoba untuk terlibat dalam percakapan orang lain untuk membantu membawa mereka keluar dari cangkangnya. Sebuah musik yang menenangkan akan dimainkan untuk membantu meringankan ketegangan atau stres pemakainya terasa.

Program ini juga memiliki kapasitas untuk streaming interaksi seperti yang terjadi ke lokasi terpencil karena kaca memiliki kamera kecil sendiri. Psikiater pemakainya atau orangtua dipercaya dapat membawa anak melalui acara sosial tanpa benar-benar hadir. Ini akan menanamkan kemandirian tanpa segera melemparkan anak untuk situasi sosial benar-benar sendirian dan ketakutan.

Membangun brand Google Glass kembali dengan membidik sektor pekerjaan dan sosial daripada pengguna itu sendiri sepertinya akan menjadi langkah selanjutnya. Patut ditunggu apa kejutan Google Glass selanjutnya.

Leave a Response